Dapat pekerjaan dan gaji tetap adalah dambaan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Tidak heran setiap kali ada lowongan pekerjaan, entah itu PNS atau swasta, hampir bisa dipastikan peminatnya membludak. Bisa dibilang prosentase yang dibutuhkan dibanding yang mendaftar tidak lebih dari 1 persen.
Nyaman dan tentram. Barangkali itu yang mereka harapkan. Tidak peduli gaji yang didapatkan kecil, yang penting setiap akhir bulan (atau awal bulan?) dapat penghasilan. Apalagi jika menjadi PNS. Dapat tunjangan macam-macam. Ada tunjangan istri, anak, mertua (emang ada?), uang makan, transport, jabatan, dan seabreg tunjangan lainnya.
Tentunya yang dapat tunjangan itu pegawai yang statusnya sudah tetap. Bagi yang masih berstatus kontrak atau tetap kontrak, ya jangan ngiri. Sabar, siapa tahu nanti diangkat jadi pegawai tetap.
Apa iya sih zona nyaman seperti itu benar-benar membuat nyaman dan tentram hidup kita? Saya sendiri pernah merasakan jadi pegawai. Setiap bulan dapat gaji dan tunjangan. Tapi yang saya rasakan kok sepertinya tetap nggak nyaman. Justru seperti ada beban sangat berat di pundak saya.
Saya pernah bertanya kepada teman saya yang menjadi pegawai di sebuah bank di Jogja. Gimana rasanya kerja di sana, nyaman apa tidak dan sebagainya. Di luar dugaan, ternyata ia juga merasa tidak nyaman. Karena penasaran saya tanya dia, kenapa tidak keluar saja? Apa jawabnya?
“Yah, mau gimana lagi. Kalau saya keluar nanti anak dan istri saya makan apa? Soalnya saya tidak punya pekerjaan lain selain di bank ini.”
Keluarga merupakan alasan yang utama, mengapa orang rela bekerja bertahun-tahun di tempat yang sebenarnya tidak dia sukai. Meskipun bosan dan jenuh, dia tidak akan pernah mengeluh ataupun protes. Yang penting dapat gaji dan tidak di-PHK. Itu yang mereka pikirkan.
Nyaman tapi menjebak.
Sepertinya ungkapan itu sangat cocok untuk menyebut situasi seperti diatas. Jadi sebelum Anda terjebak dalam situasi seperti itu alangkah baiknya jika Anda mempunyai persiapan sedini mungkin. Lebih bagus jika selain jadi pegawai (buruh), juga mempunyai usaha sendiri walaupun cuma kecil-kecilan.
Jangan sampai nanti terlanjur di-PHK tapi tidak mempunyai penghasilan alternatif lain.

May 3rd, 2008 at 10:59 am
Masih berdarah-darah ngrampungke skripsi, memang ada rencana ke situ
May 3rd, 2008 at 1:12 pm
kalo saya nich .. nyaman gak nyaman tergantung cara kita “mensyukurinya” dan tergantung “kreatifitas” kita tuk menciptakan kondisi tidak nyaman menjadi nyaman kembali..
Wahyu:
Hehehe, namanya kok sama ya…