Tradisi di Malam 1 Syuro

Bulan ini kita kembali merayakan pergantian tahun lagi. Kali ini adalah tahun baru Islam, 1429H. Bagi umat Islam bulan Muharam merupakan bulan yang istimewa. Banyak peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Muharam ini.

Perhitungan tahun Hijriyah itu sendiri dimulai dari saat hijrahnya Rasulullah SAW dari kota Mekah menuju Madinah.

Masyarakat Jawa pada umumnya menyebut bulan Muharam dengan sebutan Sura. Orang Jawa menganggap bulan Sura ini sebagai bulan yang keramat. Tabu bagi orang Jawa untuk menyelenggarakan hajatan (misalnya menikahkan anak).

Tentu saja hal tersebut hanya berlaku bagi orang-orang yang meyakininya. Karena saat ini banyak yang sudah tidak memperdulikan hal tersebut, terutama bagi generasi muda.

Selain itu, pada malam pergantian tahun baru Islam tersebut, di masyarakat Jawa biasanya ada tradisi-tradisi yang sering dikerjakan. Namun sayangnya tradisi/ritual tersebut menjurus ke hal-hal yang berbau syirik.

Kebetulan di lingkungan tempat tinggal saya masih ada yang melaksanakan ritual tersebut. Saya sendiri kurang begitu paham apa makna di balik ritual yang menurut saya tidak masuk akal itu.

Sebenarnya ada banyak ritual atau tradisi yang berlangsung di masyarakat. Namun saya hanya akan mengulas tiga saja.

1. Ritual mubeng beteng

Tradisi mubeng beteng ini terjadi di kraton Yogyakarta. Saya tidak tahu apakah di kraton lain juga ada ritual semacam itu. Ritual ini dilakukan dengan cara mengelilingi benteng kraton tanpa bicara sepatah kata pun. Istilahnya “tapa bisu”.

Entah berapa kali mereka mengelilingi benteng. Saya hanya menyaksikan sekilas saja.

2. Mandi berendam di sungai/sendang

Ritual ini biasanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Kebetulan di dekat rumah saya ada sungai yang cukup besar, yaitu sungai Progo.

Konon di sungai ini sering dipakai untuk mandi berendam pada malam 1 Suro. Entah apa maksudnya. Saya sendiri hanya mendengar cerita dari orang-orang. Belum pernah membuktikan secara langsung. 

3. Menyepi di tempat-tempat keramat

Mitos Nyi Roro Kidul masih diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa. Ini terbukti pada setiap malam 1 Suro tempat-tempat yang dianggap keramat di pantai Pandansimo ramai dikunjungi orang.

Di tempat-tempat itu mereka biasanya menyepi, membawa sesaji dan memohon sesuatu.

Pertanyaannya adalah kenapa tradisi-tradisi tersebut masih saja terjadi di jaman yang modern ini?

Entri Terkait:

Leave a Reply

Posting Terbaru

Komentar

    • boyocreative: thanks buat infonya nih mas... saya newbie di dunia blog. ...
    • aning: gimana caranya gabung?saya ingin sekali join ...
    • Wahyu Wibowo: Ide yang cemerlang ... ...
    • bocahmiring: bagaimana kalau digabung? jadi mobile web application? platform independent, jadi ndak ...
    • Ms.Sinaga: Hi, saya mampir kesini setelah meng-google PNS. Saya sedih banget, ...
    • Yana: Kenapa judul 'kotor' pake tanda kutip ya? Bukankah bengkel motor memang ...
    • Yana: Mau sharing aja nih. Aku dulu sempet kursus bahasa Inggris di ...
    • Yana: Bener! Temenku jd PNS di Depnaker jg murni krn lolos tes, ...
    • Yana: Syaratnya teknisnya ga ada ya?! ...
    • Kang Nur: wah, saya belum dapat uang dari ngeblog. belum pasang iklan. ...