Pengin tahu gimana susahnya tinggal di pedesaan? Simak penuturan saya di tulisan ini, hehehe… (gaya penyiar radio). Ada baiknya Anda pertimbangkan matang-matang sebelum memutuskan untuk pindah ke desa (bagi yang mau pindah tentunya).
Saya tidak bermaksud menakuti-nakuti, hanya sekedar berbagi cerita saja. Kebetulan saya tinggal di desa. Desa yang jauh dari perkotaan namun cukup maju. Yang jelas cerita saya ini ada kaitannya dengan masalah keuangan dan gaya hidup di desa.
Jika kita tidak ekstra hati-hati bisa jadi kondisi keuangan kita akan mudah jebol. Jangan kira tinggal di desa nggak bisa menjebolkan keuangan keluarga. Terutama bagi yang sudah berkeluarga. Hehehe… untungnya saya belum berkeluarga.
Oke, saya mulai saja ceritanya, biar Anda tidak penasaran.
1. Ronda/Siskamling
Jika kita tinggal di desa mau nggak mau harus ikut kelompok ronda, jika tidak ingin ketiban sial. Tidak perlu khawatir, cuma seminggu sekali. Dan itupun menurut saya nggak terlalu susah. Lha wong cuma pindah tidur saja kok, hehehe….
Apa sangsinya jika nggak ikut ronda? Tidak terlalu berat, cuma didiamkan saja. Didiamkan gimana? Ya, didiamkan saja. Bisa dibayangkan seandainya kita dicuekin orang, apalagi orang yang kita kenal? Wow, hukuman yang sangat kejam.
2. Sumbang Menyumbang
Di kota barangkali tidak akan jadi beban jika ada tetangga ngasih nasi (jika ada hajatan maksudnya). Tapi tidak demikian jika di desa. Jika ada yang ngasih nasi, itu berarti kita harus nyumbang. Nyumbang duit gitu loh..
Kalau hanya satu atau dua kali dalam sebulan mungkin nggak masalah ya. Gimana kalau sepuluh kali dalam sebulan? Bisa tekor dong. Bagi yang kenalannya banyak pasti akan merasakan hal ini. Jadi jangan jor-joran dalam ngasih sumbangan, sewajarnya saja.
3. Popularitas Pegang Peranan Sangat Penting
Jika Anda termasuk orang populer di desa, bersiaplah untuk sibuk. Setidaknya hal itu terjadi pada ibu tercinta saya. Orang yang populer pasti dimanapun ia berada pasti kepake. Tidak peduli apakah dia itu sibuk atau tidak.
Misalnya dalam kepengurusan organisasi. Orang yang terpilih jadi pengurus pasti orang yang cukup populer dan yang dihormati. Entah itu ketua RT, PKK, kelompok arisan dan sebagainya. Jika ada yang punya hajatan, bersiaplah untuk di-dhapuk jadi MC atau yang memberi sambutan.
4. Hajatan
Bagaimana seandainya punya hajatan, pernikahan atau khitanan misalnya? Siap-siap saja keluar uang banyak, karena akan ada hal-hal yang tidak terduga. Di kota biasanya hajatan pernikahan, satu atau dua hari sudah selesai. Tapi di desa bisa nyampe seminggu bahkan lebih.
5. Gotong royong
Sesibuk apapun kita, harus bisa meluangkan waktu untuk ikut gotong royong. Minimal kelihatan batang hidungnya walaupun hanya sebentar. Lebih bagus lagi jika menyediakan minuman ala kadarnya.
