Saya kok merasa sepertinya ada yang kurang pas dengan sinetron-sinetron bertema religi yang akhir-akhir ini lagi marak di layar televisi kita. Apa memang nggak suka dengan sinetron? Saya rasa bukan karena itu. Asalkan temanya bagus dan jalan ceritanya tidak “mbulet-bulet” saya pasti suka.
Kalau saya perhatikan belakangan ini hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron yang bertema religi. Sebenarnya bagus-bagus saja selama alur ceritanya cukup Islami. Tapi kalau ceritanya seperti yang ditayangkan di televisi itu, ya sama saja bohong.
Judulnya saja yang dibuat seolah-olah Islami, tapi isinya nggak bermutu sama sekali. Asal ada istilah-istilah Arabnya jadilah sinetron Islami. Apa iya seperti itu? Tapi mohon maaf, ini hanya pendapat saya secara pribadi. Barangkali banyak yang tidak sependapat dengan saya.
Yang saya khawatirkan adalah bagaimana jadinya kalau perilaku yang ditampilkan di sinetron-sinetron tersebut dijadikan “acuan” dalam berperilaku secara Islami. Bagaimana cara berdandannya, pergaulannya, tingkah lakunya dan sebagainya.
Padahal kalau saya amati, banyak sekali perilaku yang tidak Islami — sepanjang yang saya ketahui — diperlihatkan di sinetron yang bertema religi tersebut. Meskipun judulnya kelihatannya islami tapi kenyataannya tidak ada bedanya dengan sinetron-sinetron yang lainnya.
Tema yang ditonjolkan masih sama saja. Kalau tidak berkisar roh halus, pastilah tentang pacaran, perselingkuhan, rebutan harta warisan, dan sebagainya. Masak nggak bisa bikin cerita yang agak ilmiah sedikit sih?
Yang membuat saya lebih prihatin lagi adalah penggambaran tokoh-tokoh di dalam sinetron tersebut. Budaya pacaran dan pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan masih menjadi tema sentral dalam ceritanya.
Meskipun pengetahuan agama saya masih kurang, tetapi saya bisa menilai bagaimana perilaku yang Islami dan yang bukan. Yah, semoga saja yang menonton sinetron-sinetron tersebut bisa memilah-milah perilaku mana yang sesuai dengan ajaran Islam dan mana yang bukan.
Menjelang bulan Ramadhan ini saya yakin akan lebih banyak lagi tayangan yang seperti itu. Mungkin yang bisa kita lakukan hanya berdoa, semoga para produser itu mendapat hidayah dari Allah SWT dan dibukakan hatinya agar membuat sinetron yang lebih berbobot dan mendidik.
Bagaimana pendapat Anda?
