Jadi MC 17 Agustusan

Ini adalah kali pertama saya menjadi MC di acara 17 Agustus di kampung. Duh, untung nggak ada sabotase. Sempat deg-degan, nervous, keringatan, dan demam panggung, tapi akhirnya sukses juga penampilan perdana itu. Kalau dinilai, berapa ya nilainya … :-) Nggak tahu deh.

Yang menjadi kekhawatiran saya setiap kali ada acara di kampung adalah seandainya saya didaulat menjadi MC alias pembawa acara. Nggak berani? Bukan karena itu. Permasalahan utamanya adalah saya kurang mahir menggunakan “kromo inggil” bahasa Jawa.

Padahal mau nggak mau kalau menjadi pembawa acara di kampung apalagi acara resepsi atau layatan harus memakai bahasa Jawa. Nggak heran kalau mengikuti pertemuan RT saya hanya jadi pendengar setia saja. Nggak berani ngomong pakai bahasa Jawa. Takut salah soalnya.

Baca selengkapnya

Saya Hanya Orang Biasa

Baru beberapa bulan saya ngeblog di sini, ternyata sudah ada beberapa komentar yang mempertanyakan diri saya. Ada yang bertanya, saya dulunya kuliah dimana, pekerjaan saya apa dan sebagainya. Bahkan ada yang sempat menulis email hanya sekedar untuk mengecek apa saya ini teman beliau atau tidak.

Yang lebih lucu lagi, ada yang menyangka kalau saya ini adalah seorang pengarang buku. Lha wong ngeblog saja masih belepotan begini, masak mau nulis buku. Apa jadinya ya? Tapi siapa tahu nanti saya jadi pengarang buku beneran.

Terus terang saya sangat senang dengan komentar-komentar tersebut. Saya akui banyak sekali orang yang memiliki kemiripan atau bahkan kesamaan nama dengan sama. Ya, itulah repotnya jika punya nama yang “pasaran”… :-) Tapi nggak apa-apa. Itu berarti nama itu memang bagus hingga banyak yang pakai.

Baca selengkapnya

Sinetron Bertema Religi

Saya kok merasa sepertinya ada yang kurang pas dengan sinetron-sinetron bertema religi yang akhir-akhir ini lagi marak di layar televisi kita. Apa memang nggak suka dengan sinetron? Saya rasa bukan karena itu. Asalkan temanya bagus dan jalan ceritanya tidak “mbulet-bulet” saya pasti suka.

Kalau saya perhatikan belakangan ini hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron yang bertema religi. Sebenarnya bagus-bagus saja selama alur ceritanya cukup Islami. Tapi kalau ceritanya seperti yang ditayangkan di televisi itu, ya sama saja bohong.

Judulnya saja yang dibuat seolah-olah Islami, tapi isinya nggak bermutu sama sekali. Asal ada istilah-istilah Arabnya jadilah sinetron Islami. Apa iya seperti itu? Tapi mohon maaf, ini hanya pendapat saya secara pribadi. Barangkali banyak yang tidak sependapat dengan saya.

Baca selengkapnya

Nggak Lulus, Ya Jangan Ngamuk Dong

Saya tidak habis pikir, kok ada ya anak-anak di Jogja yang bisa berbuat kejam hanya gara-gara nggak lulus ujian. Dulu saya beranggapan bahwa semua pelajar di Jogja ini alim-alim dan sopan. Tapi ternyata anggapan saya itu tidak sepenuhnya benar.

Baru-baru ini ada sejumlah pelajar (atau mantan pelajar?) yang dengan tega menganiaya kepala sekolah karena tidak lulus ujian. Kejadiannya di salah satu sekolah di Bantul. Para pelaku menghadang kepala sekolah tersebut pada saat pulang.

Apa yang mereka lakukan? Tidak tanggung-tanggung bapak kepala sekolah yang malang itu dihajar habis-habisan. Tak hanya itu, mobilnya pun menjadi sasaran amukan mereka. Sungguh kejam perilaku mereka itu.

Entah setan mana yang merasuki mereka pada saat itu. Yang jelas sekarang mereka harus menghadapi jeratan hukum. Inikah potret kehidupan pelajar sekarang ini? Pelajar yang mudah marah, brutal dan mau menang sendiri? Semoga saja tidak.

Di tengah situasi perekonomian yang sedang carut-marut seperti sekarang ini, menghadapi persoalan sekecil apa pun orang jadi mudah emosi. Mungkin itu yang menjadi penyebab dari semua itu. Ataukah ada yang lain?

Konvoi dan Aksi Corat-Coret

Kok ada konvoi di jalan depan rumah saya ya? Kampanye kah? Oh ternyata bukan. Cuma beberapa pelajar yang iseng. Saya baru teringat kalau hari ini ada pengumuman kelulusan pelajar SMA/SMK kelas tiga.

Di banyak daerah, termasuk Jogja, konvoi dan corat-coret merupakan tradisi turun-temurun yang biasa terjadi pada saat pengumuman kelulusan. SMP atau SMA sama saja. Ada sebagian pelajar yang meluapkan kegembiraan dengan cara ini.

Saya tidak tahu kalau pelajar SDĀ  lulus pakai cara ini atau nggak. Soalnya saya belum pernah melihat hal ini terjadi pada mereka.

Baca selengkapnya

Page 6 of 16« First...«45678»...Last »

Posting Terbaru

Komentar

    • boyocreative: thanks buat infonya nih mas... saya newbie di dunia blog. ...
    • aning: gimana caranya gabung?saya ingin sekali join ...
    • Wahyu Wibowo: Ide yang cemerlang ... ...
    • bocahmiring: bagaimana kalau digabung? jadi mobile web application? platform independent, jadi ndak ...
    • Ms.Sinaga: Hi, saya mampir kesini setelah meng-google PNS. Saya sedih banget, ...
    • Yana: Kenapa judul 'kotor' pake tanda kutip ya? Bukankah bengkel motor memang ...
    • Yana: Mau sharing aja nih. Aku dulu sempet kursus bahasa Inggris di ...
    • Yana: Bener! Temenku jd PNS di Depnaker jg murni krn lolos tes, ...
    • Yana: Syaratnya teknisnya ga ada ya?! ...
    • Kang Nur: wah, saya belum dapat uang dari ngeblog. belum pasang iklan. ...