Konvoi dan Aksi Corat-Coret

Kok ada konvoi di jalan depan rumah saya ya? Kampanye kah? Oh ternyata bukan. Cuma beberapa pelajar yang iseng. Saya baru teringat kalau hari ini ada pengumuman kelulusan pelajar SMA/SMK kelas tiga.

Di banyak daerah, termasuk Jogja, konvoi dan corat-coret merupakan tradisi turun-temurun yang biasa terjadi pada saat pengumuman kelulusan. SMP atau SMA sama saja. Ada sebagian pelajar yang meluapkan kegembiraan dengan cara ini.

Saya tidak tahu kalau pelajar SD  lulus pakai cara ini atau nggak. Soalnya saya belum pernah melihat hal ini terjadi pada mereka.

Dulu waktu jaman saya, banyak juga yang melakukan konvoi dan aksi corat-coret seperti yang saya lihat barusan. Bahkan mungkin lebih banyak dibandingkan sekarang (karena BBM mahal kali, ya…).

Menurut berita yang saya baca di Detikcom, jumlah pelajar SMA/SMK yang tidak lulus meningkat dibanding tahun lalu. Untuk DIY yang tidak lulus mencapai 4000-an atau sekitar 10 persen. Paling banyak dari tingkat SMK.

Banyak kalangan yang menilai bahwa kenaikan tersebut cukup wajar mengingat jumlah mata pelajaran yang diujikan tahun ini lebih banyak dibanding sebelumnya.

Yang jelas hasil ujian seperti ini tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai apakah seorang siswa gagal atau tidak dalam studinya. Ada banyak faktor lain yang seharusnya juga menjadi pertimbangan, misalnya saja tingkat kreativitas siswa, prestasi siswa dalam bidang lain, akhlaknya dan sebagainya.

Kembali ke masalah konvoi dan aksi corat-coret di atas. Menurut pendapat saya tidak seharusnya siswa yang terpelajar melakukan hal-hal seperti itu. Kalau pelajar tersebut bisa menggunakan nalarnya dengan baik saya yakin ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut.

Apa sih untungnya melakukan konvoi keliling kota dan mencorat-coret baju seragam? Seorang pelajar yang baik seharusnya bisa berpikir bahwa di saat harga-harga kebutuhan serba mahal seperti ini tidak pada tempatnya jika melakukan perbuatan hura-hura seperti itu.

Coba dipikirkan. Untuk konvoi pakai sepeda motor apakah tidak pakai BBM. Darimana uang yang ia pakai untuk membelinya. Usaha sendiri? Saya kok tidak yakin akan hal itu. Kebanyakan pastilah minta kepada orang tuanya.

Belum lagi seragam yang dicorat-coret. Apa sih manfaat yang bisa didapatkan dengan mencoret-coret baju seperti itu. Yang ada justru itu akan mencoreng citra pelajar di mata masyarakat.

Konvoi boleh saja, tapi gunakan cara yang lebih simpatik. Misalnya saja konvoi pakai sepeda. Tapi bajunya jangan dicorat-coret. Barangkali ini lebih baik… :-)

Entri Terkait:

One Response to “Konvoi dan Aksi Corat-Coret”

  1. Wiryadi Widiyanto Says:

    Dear Mas Wahyu Wibowo,
    Terkait dengan aksi konvoi dan corat-coret, saya terkadang berpikir apakah hal ini terkait dengan pendidikan budi pekerti untuk mereka yang porsinya saat ini jauh berkurang (terkalahkan oleh mata pelajaran untuk UN) sehingga kepekaan mereka juga kurang? Atau karena merasa mudah mendapatkan fasilitas kendaraan plus BBM serta uang dari “ortu”?
    Btw, piye kabare grup kerisnya?

Leave a Reply

Posting Terbaru

Komentar

    • Wahyu Wibowo: Iya, kalau sehari saja nggak ngeblog, rasanya kurang sip. Kayak ...
    • tofackcok: emang bener ngeblog bisa bikin kita ketagihan palagi kalu sudah ...
    • Wahyu Wibowo: Syukur deh kalau bener. Ngomong-ngomong, yang bener apanya ya... :-) ...
    • Kota Ngawi: Wah bener mas, saya juga pake plugin ini. ...
    • Wahyu Wibowo: Hehehe... dinikmati saja. Lima menit pertama memang rasanya grogi dan ...
    • misscitra: Saya juga mau dipasang jadi MC 17 Agustusan di Desa Kan ...
    • Wahyu Wibowo: Hehehe... pasti bacanya sambil ngantuk. Kan sudah dibahas di atas. ...
    • Baco: Ada ngga pluggin wp untuk XML Sitemap Generator ini? Thanks. ...
    • Wahyu Wibowo: Duh, ketawanya kok sinis banget ya ... :-) ...
    • Diah: Susah memang , disaat sahabat2 karib pergi ,hanya dia sendiri ...