Ini adalah kali pertama saya menjadi MC di acara 17 Agustus di kampung. Duh, untung nggak ada sabotase. Sempat deg-degan, nervous, keringatan, dan demam panggung, tapi akhirnya sukses juga penampilan perdana itu. Kalau dinilai, berapa ya nilainya …
Nggak tahu deh.
Yang menjadi kekhawatiran saya setiap kali ada acara di kampung adalah seandainya saya didaulat menjadi MC alias pembawa acara. Nggak berani? Bukan karena itu. Permasalahan utamanya adalah saya kurang mahir menggunakan “kromo inggil” bahasa Jawa.
Padahal mau nggak mau kalau menjadi pembawa acara di kampung apalagi acara resepsi atau layatan harus memakai bahasa Jawa. Nggak heran kalau mengikuti pertemuan RT saya hanya jadi pendengar setia saja. Nggak berani ngomong pakai bahasa Jawa. Takut salah soalnya.
Saya memang lahir dan dibesarkan di lingkungan yang sehari-harinya menggunakan bahasa Jawa. Tapi saya sendiri nggak mahir berbahasa Jawa yang halus, “kromo inggil” itu tadi. Kalau dipikir-pikir malu juga. Lha wong bahasanya sendiri kok nggak bisa. Padahal pakde saya saja guru besar bahasa Jawa di UNY loh…
Berhubung saya di”dhapuk” menjadi pembawa acara, ya mau nggak mau harus berlatih, meski pakai jalan pintas. Awalnya saya coba baca buku-buku yang membahas gimana caranya menjadi pembawa acara dalam bahasa Jawa.
Wow, di luar dugaan. Ternyata gaya bahasanya tidak seperti yang sering saya dengar. Agak aneh atau barangkali bahasa yang dipakai terlalu tinggi. Yah, tidak ada cara lain, biar cepet minta tolong saja sama paklik. Akhirnya saya dibuatkan kepekannya.
Hehehe… lumayan, tinggal menghafalkan saja. Jadilah MCÂ karbitan…

August 21st, 2008 at 9:48 am
Saya juga mau dipasang jadi MC 17 Agustusan di Desa
Kan baru pertama
Dua hari ini perut rasanya mual2 mikiran hari H nya
gimana biar gak grogi nih???
August 22nd, 2008 at 9:45 am
Hehehe… dinikmati saja. Lima menit pertama memang rasanya grogi dan agak gemetaran. Tapi setelah itu lancar-lancar saja kok…