Hikmah Dibalik Ujian

Akhir-akhir ini mendengar kata ujian saja barangkali sudah cukup membuat deg-degan para pelajar. Alhamdulillah ujian sudah terlewati. Tinggal harap-harap cemas menunggu hasilnya.

Cukup wajar jika para pelajar agak was-was dengan ujian nasional tahun ini. Standar kelulusan yang bisa dibilang cukup tinggi yang jadi penyebabnya. Kalau nggak salah untuk SMA standarnya rata-rata 5,25 untuk enam mata pelajaran tanpa ada nilai di bawah 4,25.

Tak bisa dihindari, standar kelulusan tersebut justru menjadi momok tersendiri bagi para pelajar. Saya sendiri cukup kaget dengan hal ini. Apalagi saya dengar materi yang diujikan kurang begitu sesuai dengan yang diajarkan di sekolah.

Kebetulan sepupu saya juga sedang menempuh ujian SMA. Jadi saya sedikit tahu tentang permasalahan tersebut. Walaupun pihak sekolah sudah berusaha untuk memberikan motivasi dan tentunya latihan-latihan, tapi sepertinya ini belum cukup membuat para pelajar tenang.

Kecemasan makin bertambah dengan berbagai kebijakan sebagian sekolah yang agak berlebihan. Di televisi saya lihat ada sekolah yang sampai mengkarantina para siswanya. Saya rasa ini justru akan membuat para siswa menjadi ketakutan.

Keadaan ini berbeda jauh dengan saat saya menempuh ujian SMA, sekitar 9 tahun yang lalu. Waktu itu memang belum ada kebijakan standar nilai minimal seperti sekarang ini. Jadi saya tidak terlalu was-was.

Pada waktu itu saya menganggap bahwa ujian kelulusan di SMA itu hanya formalitas belaka. Saya lebih fokus untuk mempersiapkan ujian UMPTN. Saya beranggapan bahwa biarlah nilai di ijasah nggak terlalu bagus, yang penting lolos UMPTN di jurusan favorit.

Dan memang hal tersebut benar-benar terjadi. Nilai saya sedang-sedang saja tapi alhamdulillah bisa diterima di jurusan favorit. Entah apa jadinya jika saat itu nilai di ijasah jelek dan malah nggak diterima UMPTN.

Kembali ke permasalahan di atas. Setelah ujian terlewati, saat ini usaha yang bisa dilakukan hanyalah berdoa. Masalah lulus atau gagal, serahkan semuanya pada Allah SWT. Setidaknya itu menurut pandangan saya.

Kalau pun nanti gagal atau nilainya tidak memuaskan saya rasa hal itu tidak perlu dicemaskan. Bisa jadi hal itu merupakan jalan menuju kesuksesan. Ingat cerita saya pada posting yang lalu.

Entri Terkait:

Leave a Reply

Posting Terbaru

Komentar

    • Zainal Arifin: Ka saya mau tanya dulu ka2 kuliah di mana? saya binggung ...
    • suparlan: Lha kalau mas Wahyu sebenarnya kerja apa dan di mana ...
    • Andri: Mas aku kira mas itu Wahyu Wibowo yang pengarang buku ...
    • tini: heheh mas Wahyu emang tuch tini lagi maw buat makalah ...
    • masbadar: aslmkm, salam kenal mas.. bahasan etika ngblognya mana nih.. :D Wahyu: Ups.. nggak ...
    • Donny Reza: Bagi saya, tidak ada malam yang lebih membahagiakan daripada tadi ...
    • Wahyu Wibowo: Sorry mbak Azizah, saya nggak bisa kasih pendapat apa-apa. La ...
    • azizah: Mas, za mo nanya, bagai mana pendapat Mas Wahyu tentang ...
    • ika: hai trimakasih buat infona ya,, ...
    • HandY: Wow...Jadi tambah semangat belajar bahasa Inggris neh. Siapa tahu someday ...