Barusan saya membaca sebuah artikel yang cukup menarik di majalah Ummi edisi November 1995. Majalah yang sudah cukup lama tapi isinya masih relevan. Artikel tersebut membahas tentang penyakit kejiwaan yang namanya psikosomatik.
Apa sih yang dimaksud dengan penyakit tersebut?
Psikosomatik berasal dari kata “psike” yang artinya jiwa dan “soma” yang artinya badan. Maksudnya seseorang merasa sakit pada tubuhnya tapi intinya sebenarnya sakit pada jiwanya.
Misalnya saja seorang anak mengalami stress pada saat belajar. Pada saat itu bukan stressnya yang timbul tapi anak tersebut mengalami sakit pada bagian tubuhnya yang lemah misalnya lemah pada lambung, maka timbul maag yang berkepanjangan.
Artinya terjadi pengalihan penyakit. Padahal sebenarnya setelah diperiksa dokter ternyata maag tidak apa-apa, tapi perasaan si pasien yang menguasainya bahwa ia sakit pada lambungnya.
Atau sebaliknya orang tersebut sakit jantung misalnya. Sebenarnya penyakit tersebut tidak terlalu berat tapi perasaan si pasien yang dibesar-besarkan sehingga memberi kesan penyakit itu parah.
Di artikel tersebut disebutkan bahwa penyakit ini banyak terjadi pada usia remaja sampai dewasa, bahkan lanjut usia. Penderitanya pun bisa wanita maupun pria.
Saya jadi teringat dulu waktu kecil jika menghadapi masalah, mau ujian misalnya, saya selalu menderita sariawan. Tidak tanggung-tanggung nggak hanya satu tapi banyak. Bisa dibayangkan gimana rasanya. Apa mungkin ini termasuk kategori psikosomatik?
Penyebab dari penyakit psikosomatik menurut artikel tersebut adalah kebiasaan berkeluh kesah. Sayangnya secara tidak sadar kebiasaan ini justru diajarkan oleh ibu pada anaknya.
Contohnya bila menghadapi suatu ujian bukan membaca “istighfar” tapi malah “aduh kok begitu sih…”. Hal itu terus menerus dilakukan sehingga si anak akan bersikap seperti ibunya. Kalau menghadapi masalah bukannya sabar malah mengeluh.
Tahap pertama dari psikosomatik ialah seringnya orang tersebut berkeluh kesah. Lama-kelamaan makin menghebat sehingga berdampak pada kejiwaan dan tubuhnya.
Nah, agar terhindar dari penyakit tersebut kita harus bersikap sabar dan tawakal jika menghadapi suatu masalah atau ujian. Selain itu jangan pernah menyesali nasib. Misalnya kita jangan menyesali kalau kita diciptakan jelek, bodoh dsb.
Begitu juga apabila kita sudah berusaha sekuat tenaga tetapi hasil yang kita harapkan tidak memuaskan. Kalau tidak begitu, bibit penyakit stress dan lain-lain akan mudah timbul.
Semoga bermanfaat.

May 9th, 2008 at 10:44 am
bisa juga itu muncul saat pas mau ujian, tiba-tiba pengin pipis atau BAB, muntah-muntah. itu juga psikosomatis
June 25th, 2008 at 6:56 pm
Mas aku kira mas itu Wahyu Wibowo yang pengarang buku itu
Apa iya yah?