Hampir semua orang mengeluh jika turun hujan. Saya pun kadang-kadang demikian. Tanpa sebab apapun seringkali kita menyalahkan hujan. Kalau hujan nggak turun, pasti cucian sudah kering. Wah, saya nggak jadi pergi nih, hujan sih.
Terkadang hujan menjadi alasan yang jitu untuk menghindar dari kewajiban yang seharusnya kita kerjakan. Entah itu berangkat ke kantor, ke kampus ataupun ke sekolah. Biar saja, nggak usah berangkat. Pasti mereka pada maklum, soalnya kan hujan.
Apa salah hujan hingga menjadi kambing hitam seperti ini? Tidakkah kita berpikir gimana seandainya hujannya ngambek dan nggak mau turun lagi? Lagi-lagi kita pasti juga akan menyalahkan hujan kalau tidak turun. Benar bukan?
Dibalik itu semua saya yakin pasti ada juga yang sangat bersyukur dengan adanya hujan. Salah satunya mungkin tukang becak yang saya lihat sore tadi saat terjebak hujan di sebuah swalayan di Jogja.
Gimana tidak? Lha wong ia jadi punya uang banyak dalam waktu yang relatif singkat. Nggak sampai 2 jam ia bisa mendapatkan rupiah yang lumayan banyak.
Berbekal jas hujan dan payung jadilah dia tukang sewa payung dadakan. Jas hujan itu ia pakai sendiri, dan ia mondar-mandir menawarkan jasa payung kepada orang-orang yang sedang terjebak hujan di swalayan tersebut.
Wuih, saya lihat cukup laris juga. Berulang kali dia mengantarkan pengunjung swalayan ke mobilnya yang diparkir di seberang jalan. Bisa Anda bayangkan berapa tip yang ia terima atas jasanya menawarkan payung tersebut. Pasti banyak sekali, soalnya hujannya cukup lama.
Ada baiknya kita belajar dari si tukang becak ini. Gimana caranya mensyukuri nikmat hujan yang sudah diberikan kepada kita ini. Bagaimana pendapat Anda?

April 30th, 2008 at 1:19 pm
Pas kecil dulu pernah ngojek payung. Cuman kepayon 1 kali, itu aja tetangga sendiri.dapet 100 rupiah
Wahyu:
Saya waktu kecil dikasih uang 50 perak saja senengnya bukan main.