Beberapa hari yang lalu, tanggal 25 Agustus 2008 Pertamina menaikkan harga elpiji sebesar 9,5 persen. Jika semula harga perkilonya Rp 5.250 sekarang menjadi Rp. 5.750. Tinggal dikalikan saja dengan 12 kg, jadinya untuk satu tabung sekarang harganya menjadi Rp. 69.000.
Kalau dihitung-hitung, kenaikannya memang tidak terlalu signifikan, “hanya” Rp. 500. Tapi bagi rakyat kecil jumlah itu terhitung besar karena ada faktor pengalinya. Belum lagi biasanya di tingkat konsumen para agen juga akan menaikkan harganya. Sangat sulit mengharapkan harga di tingkat konsumen akan sama dengan harga yang dipatok oleh Pertamina.
Tidak hanya sampai di situ saja “kebijakan” Pertamina itu. Menurut rencana tiap bulan akan ada kenaikan sebesar Rp. 500 hingga mencapai harga Rp. 11.400. Coba Anda hitung berapa harga elpiji nantinya. Sangat mahal, untuk kemasan 12 kg mencapai Rp. 136.800.
Jadi mulai sekarang siap-siap saja kembali ke “alam” yaitu pakai lagi bahan bakar kayu atau arang. Mungkin ini bisa menjadi peluang bisnis yang cukup bagus bagi yang punya naluri bisnis tinggi. Namun bagi masyarakat hal ini merupakan pukulan yang sangat menyakitkan.
Ada kemungkinan kemiskinan di tanah air ini akan semakin merajalela. Masyarakat kecil yang tadinya bisa berwirausaha — entah itu jualan makanan atau minuman — dengan mengandalkan gas elpiji mau nggak mau harus memutar otak agar usahanya tidak gulung tikar.
Mau pakai minyak tanah? Hem.. jangan harap. Minyak tanah sekarang sudah langka di pasaran. Alternatif lain yang barangkali akan “diserbu” oleh masyarakat adalah kemasan elpiji 3 kg, karena masih disubsidi dan harganya tidak naik. Tetapi mungkin tidak lama lagi elpiji 3 kg tersebut akan sulit didapat.
Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa pemerintah terkesan diam saja? Mana janji-janji pemerintah yang katanya mau memperjuangkan hak-hak rakyat kecil?

September 17th, 2008 at 2:24 pm
Wah… ada yang baru nih Om..
namanya bioethanol, hasil destilasi dari singkong. Ada juga yang dari Jagung, Tebu, dll.
buat pengganti minyak tanah. harganya cuma Rp 10.000,- perliter. Perbandingannya dengan minyak tanah; minyak tanah 3 ltr = 1 ltr bioethanol. Ini namanya solusi bukan.. Sudah diproduksi massal. Saya prduksi 3000 ltr/hari.
September 24th, 2008 at 5:21 pm
Wah, kalau semuanya dijadikan bioethanol, bisa-bisa kita nggak kebagian ketela lagi dong…
November 3rd, 2008 at 1:42 pm
ya ga semuanya, tar ga bisa makan singkong goreng sama peuyeum(puan) dong.. hehehe..
bahan buat etanolnya bisa dari tebu, aren, kedelai, ketela, dll