Apa Beda Pengemis dan Pengamen?

Terlalu susah untuk membedakan yang mana pengemis dan yang mana pengamen. Bahkan kadang keduanya lebur menjadi satu. Alias pengemis merangkap pengamen. Ini bisa dijumpai di kota-kota besar. Saya ambil contoh di Jogja saja.

Hampir di setiap perempatan jalan besar di kota Jogja kita bisa menemui hal semacam itu. Ironisnya, pelakunya sebagian besar adalah anak-anak. Kalau nggak ya perempuan yang menggendong anak kecil. Kasihan anaknya, masih kecil sudah diajari mengemis.

Kadang-kadang mengamen hanyalah sebagai kedok belaka. Sesungguhnya ia itu pengemis. Nggak tahu juga pengemis sungguhan atau gadungan. Kalau sungguhan pengamen masak sih nggak niat begitu. Nyanyi juga asal bunyi saja.

Saya cukup heran, kenapa ya alat musiknya semuanya bisa hampir sama? Nama alat musiknya saya tidak tahu, tapi bunyinya crek..crek.. Seperti itulah. Cara memainkannya cukup mudah, cuma ditepuk-tepukkan di tangan.

Baca selengkapnya

Gara-Gara Hujan

Hampir semua orang mengeluh jika turun hujan. Saya pun kadang-kadang demikian. Tanpa sebab apapun seringkali kita menyalahkan hujan. Kalau hujan nggak turun, pasti cucian sudah kering. Wah, saya nggak jadi pergi nih, hujan sih.

Terkadang hujan menjadi alasan yang jitu untuk menghindar dari kewajiban yang seharusnya kita kerjakan. Entah itu berangkat ke kantor, ke kampus ataupun ke sekolah. Biar saja, nggak usah berangkat. Pasti mereka pada maklum, soalnya kan hujan.

Apa salah hujan hingga menjadi kambing hitam seperti ini? Tidakkah kita berpikir gimana seandainya hujannya ngambek dan nggak mau turun lagi? Lagi-lagi kita pasti juga akan menyalahkan hujan kalau tidak turun. Benar bukan?

Dibalik itu semua saya yakin pasti ada juga yang sangat bersyukur dengan adanya hujan. Salah satunya mungkin tukang becak yang saya lihat sore tadi saat terjebak hujan di sebuah swalayan di Jogja.

Gimana tidak? Lha wong ia jadi punya uang banyak dalam waktu yang relatif singkat. Nggak sampai 2 jam ia bisa mendapatkan rupiah yang lumayan banyak.

Baca selengkapnya

Mencatat vs Fotokopi

Pernahkah Anda membayangkan gimana seandainya tidak ada mesin fotokopi? Tentunya repot sekali. Benarkah demikian?

Saya jadi berpikir. Dulu sebelum ada mesin fotokopi seperti apa ya? Mungkinkah semuanya ditulis tangan. Bagaimana rasanya menyalin buku yang tebal. Sanggupkah Anda jika disuruh mencatat 100 halaman sehari? Wah, capek deh. Apa iya seperti itu?

Jaman memang sudah berubah. Coba saja anak sekarang disuruh menyalin buku. Tidak usah banyak-banyak. Cukup 5 halaman saja. Pasti mengeluh. Alasannya capek, nggak ada waktu, buang-buang waktu, dan sebagainya.

Kalau dipikir-pikir mencatat itu manfaatnya banyak sekali lho. Peribahasa mengatakan, sambil menyelam minum air. Saya rasa peribahasa tersebut cocok sekali jika diterapkan pada kasus ini. Maksudnya adalah kita bisa belajar sambil mencatat. Selain dapat ilmunya kita juga punya catatan. Hemat waktu bukan?

Coba bandingkan dengan fotokopi? Apakah setelah difotokopi materi tersebut langsung dipelajari? Hebat kalau bisa seperti itu. Kebanyakan langsung disimpan. Dibaca nanti kalau mau ujian saja. Iya, kan? Ngaku saja deh… Saya juga seperti itu kok, hehehe…

Baca selengkapnya

Katanya Kuliah di Teknik Informatika, Tapi Kok…

Ini benar-benar nyata. Saya sendiri juga heran masak iya sih nggak bisa nginstal program. Padahal katanya dia kuliah di Teknik Informatika. Anda bisa membayangkan seperti apa kalau lulus nanti. Dunia ini memang penuh dengan hal-hal yang tidak terduga.

Tapi setelah saya pikir-pikir bisa saja kan? Mungkin saja dia adalah mahasiswa baru yang belum tahu apa-apa. Kalau kasusnya seperti ini masih bisa diterima. Tapi kalau ternyata dia sudah hampir lulus, ini yang jadi pertanyaan.

Dulu waktu saya pertama masuk perguruan tinggi pernah juga mengalami kejadian seperti itu. Bahkan lebih parah. Saya kuliahnya di jurusan Teknik Elektro. Diajari dasar-dasar pemrograman oleh dosen saya. Nggak paham sama sekali.

Waktu itu saya belum punya komputer sama sekali. Bisa dibayangkan gimana pusingnya. Mau belajar programming tapi nggak punya komputer. Mau pakai komputer di laboratorium, nggak berani. Maklum mahasiswa baru.

Apa yang saya lakukan kemudian?

Baca selengkapnya

Banggakah Memakai Software Bajakan?

Saya pernah mendengar bahwa beramal dengan harta hasil curian itu tetap berdosa. Benar atau tidak ya? Saya memang kurang begitu paham dengan hal tersebut. Namun hal itu ternyata cukup mengganggu pikiran saya.

Yang menjadi pemikiran saya, bagaimana hukumnya memakai software bajakan ya? Hehehe… nyambung nggak sih dengan pernyataan sebelumnya? :-)

Sebagai programmer saya mau nggak mau harus berurusan dengan hal tersebut. Seandainya saya mencari nafkah dengan memakai software bajakan, apakah penghasilan yang saya peroleh tersebut halal?

Baca selengkapnya

Page 2 of 3«123»

Posting Terbaru

Komentar

    • boyocreative: thanks buat infonya nih mas... saya newbie di dunia blog. ...
    • aning: gimana caranya gabung?saya ingin sekali join ...
    • Wahyu Wibowo: Ide yang cemerlang ... ...
    • bocahmiring: bagaimana kalau digabung? jadi mobile web application? platform independent, jadi ndak ...
    • Ms.Sinaga: Hi, saya mampir kesini setelah meng-google PNS. Saya sedih banget, ...
    • Yana: Kenapa judul 'kotor' pake tanda kutip ya? Bukankah bengkel motor memang ...
    • Yana: Mau sharing aja nih. Aku dulu sempet kursus bahasa Inggris di ...
    • Yana: Bener! Temenku jd PNS di Depnaker jg murni krn lolos tes, ...
    • Yana: Syaratnya teknisnya ga ada ya?! ...
    • Kang Nur: wah, saya belum dapat uang dari ngeblog. belum pasang iklan. ...