<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Wahyu Wibowo on The Net &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://www.wahyuwibowo.net/category/renungan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wahyuwibowo.net</link>
	<description>Belajarlah ilmu dan ajarkan pada manusia (Umar bin Khathab)</description>
	<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 12:33:23 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Nggak Lulus, Ya Jangan Ngamuk Dong</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/nggak-lulus-ya-jangan-ngamuk-dong</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/nggak-lulus-ya-jangan-ngamuk-dong#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 16:20:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak habis pikir, kok ada ya anak-anak di Jogja yang bisa berbuat kejam hanya gara-gara nggak lulus ujian. Dulu saya beranggapan bahwa semua pelajar di Jogja ini alim-alim dan sopan. Tapi ternyata anggapan saya itu tidak sepenuhnya benar.
Baru-baru ini ada sejumlah pelajar (atau mantan pelajar?) yang dengan tega menganiaya kepala sekolah karena tidak lulus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak habis pikir, kok ada ya anak-anak di Jogja yang bisa berbuat kejam hanya gara-gara nggak lulus ujian. Dulu saya beranggapan bahwa semua pelajar di Jogja ini alim-alim dan sopan. Tapi ternyata anggapan saya itu tidak sepenuhnya benar.</p>
<p>Baru-baru ini ada sejumlah pelajar (atau mantan pelajar?) yang dengan tega menganiaya kepala sekolah karena tidak lulus ujian. Kejadiannya di salah satu sekolah di Bantul. Para pelaku menghadang kepala sekolah tersebut pada saat pulang.</p>
<p>Apa yang mereka lakukan? Tidak tanggung-tanggung bapak kepala sekolah yang malang itu dihajar habis-habisan. Tak hanya itu, mobilnya pun menjadi sasaran amukan mereka. Sungguh kejam perilaku mereka itu.</p>
<p>Entah setan mana yang merasuki mereka pada saat itu. Yang jelas sekarang mereka harus menghadapi jeratan hukum. Inikah potret kehidupan pelajar sekarang ini? Pelajar yang mudah marah, brutal dan mau menang sendiri? Semoga saja tidak.</p>
<p>Di tengah situasi perekonomian yang sedang carut-marut seperti sekarang ini, menghadapi persoalan sekecil apa pun orang jadi mudah emosi. Mungkin itu yang menjadi penyebab dari semua itu. Ataukah ada yang lain?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/nggak-lulus-ya-jangan-ngamuk-dong/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Konvoi dan Aksi Corat-Coret</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/konvoi-dan-aksi-corat-coret</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/konvoi-dan-aksi-corat-coret#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2008 08:28:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Kok ada konvoi di jalan depan rumah saya ya? Kampanye kah? Oh ternyata bukan. Cuma beberapa pelajar yang iseng. Saya baru teringat kalau hari ini ada pengumuman kelulusan pelajar SMA/SMK kelas tiga.
Di banyak daerah, termasuk Jogja, konvoi dan corat-coret merupakan tradisi turun-temurun yang biasa terjadi pada saat pengumuman kelulusan. SMP atau SMA sama saja. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kok ada konvoi di jalan depan rumah saya ya? Kampanye kah? Oh ternyata bukan. Cuma beberapa pelajar yang iseng. Saya baru teringat kalau hari ini ada pengumuman kelulusan pelajar SMA/SMK kelas tiga.</p>
<p>Di banyak daerah, termasuk Jogja, konvoi dan corat-coret merupakan tradisi turun-temurun yang biasa terjadi pada saat pengumuman kelulusan. SMP atau SMA sama saja. Ada sebagian pelajar yang meluapkan kegembiraan dengan cara ini.</p>
<p>Saya tidak tahu kalau pelajar SD  lulus pakai cara ini atau nggak. Soalnya saya belum pernah melihat hal ini terjadi pada mereka.</p>
<p><span id="more-75"></span></p>
<p>Dulu waktu jaman saya, banyak juga yang melakukan konvoi dan aksi corat-coret seperti yang saya lihat barusan. Bahkan mungkin lebih banyak dibandingkan sekarang (karena BBM mahal kali, ya&#8230;).</p>
<p>Menurut berita yang saya baca di Detikcom, jumlah pelajar SMA/SMK yang tidak lulus meningkat dibanding tahun lalu. Untuk DIY yang tidak lulus mencapai 4000-an atau sekitar 10 persen. Paling banyak dari tingkat SMK.</p>
<p>Banyak kalangan yang menilai bahwa kenaikan tersebut cukup wajar mengingat jumlah mata pelajaran yang diujikan tahun ini lebih banyak dibanding sebelumnya.</p>
<p>Yang jelas hasil ujian seperti ini tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai apakah seorang siswa gagal atau tidak dalam studinya. Ada banyak faktor lain yang seharusnya juga menjadi pertimbangan, misalnya saja tingkat kreativitas siswa, prestasi siswa dalam bidang lain, akhlaknya dan sebagainya.</p>
<p>Kembali ke masalah konvoi dan aksi corat-coret di atas. Menurut pendapat saya tidak seharusnya siswa yang terpelajar melakukan hal-hal seperti itu. Kalau pelajar tersebut bisa menggunakan nalarnya dengan baik saya yakin ia tidak akan melakukan perbuatan tersebut.</p>
<p>Apa sih untungnya melakukan konvoi keliling kota dan mencorat-coret baju seragam? Seorang pelajar yang baik seharusnya bisa berpikir bahwa di saat harga-harga kebutuhan serba mahal seperti ini tidak pada tempatnya jika melakukan perbuatan hura-hura seperti itu.</p>
<p>Coba dipikirkan. Untuk konvoi pakai sepeda motor apakah tidak pakai BBM. Darimana uang yang ia pakai untuk membelinya. Usaha sendiri? Saya kok tidak yakin akan hal itu. Kebanyakan pastilah minta kepada orang tuanya.</p>
<p>Belum lagi seragam yang dicorat-coret. Apa sih manfaat yang bisa didapatkan dengan mencoret-coret baju seperti itu. Yang ada justru itu akan mencoreng citra pelajar di mata masyarakat.</p>
<p>Konvoi boleh saja, tapi gunakan cara yang lebih simpatik. Misalnya saja konvoi pakai sepeda. Tapi bajunya jangan dicorat-coret. Barangkali ini lebih baik&#8230; <img src='http://www.wahyuwibowo.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/konvoi-dan-aksi-corat-coret/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu Itu Laksana Pedang</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/waktu-itu-laksana-pedang</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/waktu-itu-laksana-pedang#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 04:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kata mutiara yang saya kutip dari buku &#8220;Warisan Tokoh-tokoh Muslim&#8221;. Lengkapnya adalah sebagai berikut:
&#8220;Waktu itu laksana pedang, jika Anda tidak mempergunakannya maka dia akan memenggal leher Anda sendiri (Ali bin Abi Thalib)&#8221;
Sadar atau tidak kita ini &#8212; termasuk saya juga  &#8212; sering bermain-main dengan waktu. Kalau dihitung dengan uang, barangkali sudah tidak terhitung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah kata mutiara yang saya kutip dari buku &#8220;Warisan Tokoh-tokoh Muslim&#8221;. Lengkapnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Waktu itu laksana pedang, jika Anda tidak mempergunakannya maka dia akan memenggal leher Anda sendiri (Ali bin Abi Thalib)&#8221;</p>
<p>Sadar atau tidak kita ini &#8212; termasuk saya juga <img src='http://www.wahyuwibowo.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> &#8212; sering bermain-main dengan waktu. Kalau dihitung dengan uang, barangkali sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kerugian yang kita derita.</p>
<p>Begitu berharganya waktu, sampai-sampai Umar bin Khatab pernah mengatakan bahwa ia tidak suka melihat orang yang berdiam diri tanpa melakukan sesuatu yang mendatangkan manfaat ukhrawi maupun duniawi.</p>
<p><span id="more-64"></span></p>
<p>Ada beberapa fenomena yang sering terjadi di masyarakat yang berhubungan dengan waktu.</p>
<p><strong>1. Kurang memahami nilai waktu</strong></p>
<p>Waktu adalah sesuatu yang termahal yang dimiliki oleh manusia, karena ia datang untuk tidak kembali lagi. Sehubungan dengan hal ini, syaikh Hasan Al-Bashri mengatakan,</p>
<p>&#8220;Wahai anak cucu Adam,kamu tak lebih dari tumpukan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, berlalu pula sebagian dirimu&#8221;</p>
<p>Akibat dari kurang memahami nilai waktu, seseorang akan kehilangan perhatian untuk menata dan mengatur waktu sesuai dengan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.</p>
<p><strong>2. Hidup santai</strong></p>
<p>Kebiasaan hidup nyantai dan berleha-leha adalah kurang baik ditinjau dari sisi efisiensi waktu. Hal ini akan menjebak seseorang untuk tidak menyelesaikan pekerjaan pada waktu ia bisa melakukannya.</p>
<p>Dia akan berkilah, &#8220;Biarlah pekerjaan ini saya kerjakan nanti saja, toh saya masih punya banyak waktu. Sekarang saya ingin santai dulu.&#8221;</p>
<p><strong>3. Optimisme berlebihan</strong></p>
<p>Sikap optimis adalah sangat bagus. Namun demikian optimis yang tanpa perhitungan justru akan merugikan diri sendiri.</p>
<p>Seringkali kita terlalu optimis bahwa kita bisa menyelesaikan suatu pekerjaan dalam tempo sekian jam atau sekian menit. Sementara itu kita sendiri justru jarang untuk mengkalkulasi kemampuan yang kita miliki serta waktu yang tersedia.</p>
<p>&#8220;Barang siapa mempercayai waktu ia pasti akan tertipu (Al Ahnaf bin Qais)&#8221;</p>
<p><em>(Referensi: majalah Ummi)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/waktu-itu-laksana-pedang/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>1000 Langkah Dimulai Dari Langkah Pertama</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/1000-langkah-dimulai-dari-langkah-pertama</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/1000-langkah-dimulai-dari-langkah-pertama#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 03:06:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah membaca artikel yang sangat menarik. Judulnya lupa, tapi intinya kesuksesan itu tidak bisa diraih secara instan, tapi harus melalui proses yang sangat panjang. Sayangnya banyak yang tidak menyadari bahwa jarak mereka dengan kesuksesan sudah dekat ketika mereka memutuskan untuk menyerah.
Nah, proses menuju kesuksesan tersebut mau nggak mau harus dimulai dengan langkah pertama. Apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pernah membaca artikel yang sangat menarik. Judulnya lupa, tapi intinya kesuksesan itu tidak bisa diraih secara instan, tapi harus melalui proses yang sangat panjang. Sayangnya banyak yang tidak menyadari bahwa jarak mereka dengan kesuksesan sudah dekat ketika mereka memutuskan untuk menyerah.</p>
<p>Nah, proses menuju kesuksesan tersebut mau nggak mau harus dimulai dengan langkah pertama. Apa langkah pertama yang harus dilakukan agar sukses? Itu tergantung dari apa yang ingin dicapai.</p>
<p>Bagi pelajar, kalau ingin meraih nilai yang terbaik pada ujian, ya harusnya rajin belajar. Jangan cepat merasa puas dengan apa yang sudah dikuasai. Cepat merasa puas dan sering menganggap sepele bisa dikatakan merupakan &#8220;BLUNDER&#8221; bagi pelajar.</p>
<p><span id="more-62"></span></p>
<p>Begitu juga dengan sesuatu yang ada kaitannya dengan dunia kerja. Kalau ingin bekerja dan mendapat gaji besar tentunya langkah pertama yang harus dilakukan adalah melamar kerja. Jangan hanya duduk santai menunggu orang lain menawari kita pekerjaan.</p>
<p>Inilah esensi dari peribahasa Cina yang mengatakan bahwa 100 LANGKAH DIMULAI DARI LANGKAH PERTAMA. Sebuah peribahasa yang sangat sederhana namun maknanya sangat dalam.</p>
<p>Yang menjadi persoalan, langkah pertama ini kadang-kadang justru menjadi momok bagi orang yang ingin sukses. Inginnya menjadi pengusaha sukses tapi memulai usaha saja nggak berani. Lalu kapan suksesnya kalau seperti itu?</p>
<p>Dalam hal ini saya sepertinya juga perlu melakukan introspeksi diri. Bagaimana dengan Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/1000-langkah-dimulai-dari-langkah-pertama/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Ibu Kartini</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/belajar-dari-ibu-kartini</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/belajar-dari-ibu-kartini#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 13:44:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Yah, meskipun agak telat&#8230; SELAMAT HARI KARTINI buat semuanya.
Hari Kartini merupakan hari yang sangat berkesan. Gimana tidak? Dulu biasanya saat peringatan hari tersebut semuanya harus memakai pakaian tradisional. Kalau sekarang saya kurang tahu apa masih seperti itu atau tidak.
Menurut cerita, tanggal 21 April adalah hari kelahiran RA Kartini, yang kemudian oleh Presiden Sukarno dijadikan sebagai hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yah, meskipun agak telat&#8230; <strong>SELAMAT HARI KARTINI</strong> buat semuanya.</p>
<p>Hari Kartini merupakan hari yang sangat berkesan. Gimana tidak? Dulu biasanya saat peringatan hari tersebut semuanya harus memakai pakaian tradisional. Kalau sekarang saya kurang tahu apa masih seperti itu atau tidak.</p>
<p>Menurut cerita, tanggal 21 April adalah hari kelahiran RA Kartini, yang kemudian oleh Presiden Sukarno dijadikan sebagai hari Libur Nasional. Tentunya Anda semua sudah tahu siapa RA Kartini itu. Beliau adalah pelopor gerakan emansipasi wanita di Indonesia.</p>
<p>Isu yang diangkat oleh Ibu Kartini pada waktu itu adalah emansipasi wanita. Ibu Kartini memperjuangkan persamaan hak antara pria dan wanita dalam bidang pendidikan.</p>
<p><span id="more-54"></span></p>
<p>Seperti yang telah kita ketahui bersama, pada waktu itu kaum wanita tidak diperkenankan untuk memperoleh pendidikan yang memadai. Kaum wanita hanya dianggap sebagai &#8220;konco wingking&#8221; (apa terjemahannya dalam bahasa Indonesia?).</p>
<p>Hanya kaum wanita dari kalangan bangsawan saja yang bisa mendapatkan pendidikan. Itu pun tidak begitu tinggi. Menginjak usia remaja kaum wanita harus menjalani <em>pingitan</em> sebelum memasuki masa pernikahan.</p>
<p>Begitu juga dengan Ibu Kartini. Beliau hanya bisa mengenyam pendidikan hingga usia 12 tahun (kalau nggak salah). Di sekolah tersebut antara lain diajarkan bahasa Belanda. Setelah lewat usia 12 tahun beliau juga harus menjalani pingitan.</p>
<p>Karena menguasai bahasa Belanda, Ibu Kartini mulai belajar sendiri di rumah dan sering menulis surat untuk teman-temannya yang berasal dari Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak memberikan dukungan padanya.</p>
<p>Ibu Kartini menyadari bahwa kaum wanita di lingkungannya, yang sebaya dengan dirinya, tidak mendapatkan pendidikan yang cukup. Dengan gigih dan pantang menyerah, beliau memberikan pengajaran kepada mereka.</p>
<p>Berkat kegigihan beliau beberapa tahun kemudian setelah beliau meninggal, didirikanlah beberapa Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini. Yayasan ini didirikan oleh Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis (ingat pelajaran sejarah di SMP).</p>
<p>Sudah seharusnya kita sebagai generasi penerus meneladani semangat perjuangan beliau. Jangan sampai kita hanya larut dalam ceremonial untuk memperingati hari tersebut tapi justru tidak mengambil pelajaran darinya.</p>
<p>Masih adakah Kartini pada jaman sekarang ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/belajar-dari-ibu-kartini/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Beda Pengemis dan Pengamen?</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/apa-beda-pengemis-dan-pengamen</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/apa-beda-pengemis-dan-pengamen#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 08:30:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Terlalu susah untuk membedakan yang mana pengemis dan yang mana pengamen. Bahkan kadang keduanya lebur menjadi satu. Alias pengemis merangkap pengamen. Ini bisa dijumpai di kota-kota besar. Saya ambil contoh di Jogja saja.
Hampir di setiap perempatan jalan besar di kota Jogja kita bisa menemui hal semacam itu. Ironisnya, pelakunya sebagian besar adalah anak-anak. Kalau nggak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terlalu susah untuk membedakan yang mana pengemis dan yang mana pengamen. Bahkan kadang keduanya lebur menjadi satu. Alias pengemis merangkap pengamen. Ini bisa dijumpai di kota-kota besar. Saya ambil contoh di Jogja saja.</p>
<p>Hampir di setiap perempatan jalan besar di kota Jogja kita bisa menemui hal semacam itu. Ironisnya, pelakunya sebagian besar adalah anak-anak. Kalau nggak ya perempuan yang menggendong anak kecil. Kasihan anaknya, masih kecil sudah diajari mengemis.</p>
<p>Kadang-kadang mengamen hanyalah sebagai kedok belaka. Sesungguhnya ia itu pengemis. Nggak tahu juga pengemis sungguhan atau gadungan. Kalau sungguhan pengamen masak sih nggak niat begitu. Nyanyi juga asal bunyi saja.</p>
<p>Saya cukup heran, kenapa ya alat musiknya semuanya bisa hampir sama? Nama alat musiknya saya tidak tahu, tapi bunyinya crek..crek.. Seperti itulah. Cara memainkannya cukup mudah, cuma ditepuk-tepukkan di tangan.</p>
<p><span id="more-52"></span></p>
<p>Pernah juga terlintas dalam pikiran saya, apa mungkin mereka itu ada yang mengkoordinir? Semacam perkumpulan pengemis? Wah, kalau seperti itu kok kayak di filem ya, kayak Perkumpulan Pengemis Kaipang, yang punya tongkat Pemukul Anjing itu loh. Hehehe&#8230;</p>
<p>Masih mending pengamen di atas bis AKAP. Kalau pengamen yang seperti ini biasanya kreatif. Yah, walaupun suaranya nggak begitu bagus tapi cukup menghibur penumpang. Terbukti banyak juga yang ngasih uang receh.</p>
<p>Saya sendiri terkadang bingung bagaimana menghadapi orang-orang seperti itu. Kalau nggak dikasih uang sepertinya kok kasihan banget. Tapi kalau terus-terusan dikasih, pasti mereka akan keenakan. Ada yang punya pendapat lain?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/apa-beda-pengemis-dan-pengamen/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gara-Gara Hujan</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/gara-gara-hujan</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/gara-gara-hujan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 15:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Hampir semua orang mengeluh jika turun hujan. Saya pun kadang-kadang demikian. Tanpa sebab apapun seringkali kita menyalahkan hujan. Kalau hujan nggak turun, pasti cucian sudah kering. Wah, saya nggak jadi pergi nih, hujan sih.
Terkadang hujan menjadi alasan yang jitu untuk menghindar dari kewajiban yang seharusnya kita kerjakan. Entah itu berangkat ke kantor, ke kampus ataupun ke sekolah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir semua orang mengeluh jika turun hujan. Saya pun kadang-kadang demikian. Tanpa sebab apapun seringkali kita menyalahkan hujan. Kalau hujan nggak turun, pasti cucian sudah kering. Wah, saya nggak jadi pergi nih, hujan sih.</p>
<p>Terkadang hujan menjadi alasan yang jitu untuk menghindar dari kewajiban yang seharusnya kita kerjakan. Entah itu berangkat ke kantor, ke kampus ataupun ke sekolah. Biar saja, nggak usah berangkat. Pasti mereka pada maklum, soalnya kan hujan.</p>
<p>Apa salah hujan hingga menjadi kambing hitam seperti ini? Tidakkah kita berpikir gimana seandainya hujannya ngambek dan nggak mau turun lagi? Lagi-lagi kita pasti juga akan menyalahkan hujan kalau tidak turun. Benar bukan?</p>
<p>Dibalik itu semua saya yakin pasti ada juga yang sangat bersyukur dengan adanya hujan. Salah satunya mungkin tukang becak yang saya lihat sore tadi saat terjebak hujan di sebuah swalayan di Jogja.</p>
<p>Gimana tidak? Lha wong ia jadi punya uang banyak dalam waktu yang relatif singkat. Nggak sampai 2 jam ia bisa mendapatkan rupiah yang lumayan banyak.</p>
<p><span id="more-39"></span></p>
<p>Berbekal jas hujan dan payung jadilah dia tukang sewa payung dadakan. Jas hujan itu ia pakai sendiri, dan ia mondar-mandir menawarkan jasa payung kepada orang-orang yang sedang terjebak hujan di swalayan tersebut.</p>
<p>Wuih, saya lihat cukup laris juga. Berulang kali dia mengantarkan pengunjung swalayan ke mobilnya yang diparkir di seberang jalan. Bisa Anda bayangkan berapa tip yang ia terima atas jasanya menawarkan payung tersebut. Pasti banyak sekali, soalnya hujannya cukup lama.</p>
<p>Ada baiknya kita belajar dari si tukang becak ini. Gimana caranya mensyukuri nikmat hujan yang sudah diberikan kepada kita ini. Bagaimana pendapat Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/gara-gara-hujan/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mencatat vs Fotokopi</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/mencatat-vs-fotokopi</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/mencatat-vs-fotokopi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 05:05:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah Anda membayangkan gimana seandainya tidak ada mesin fotokopi? Tentunya repot sekali. Benarkah demikian?
Saya jadi berpikir. Dulu sebelum ada mesin fotokopi seperti apa ya? Mungkinkah semuanya ditulis tangan. Bagaimana rasanya menyalin buku yang tebal. Sanggupkah Anda jika disuruh mencatat 100 halaman sehari? Wah, capek deh. Apa iya seperti itu?
Jaman memang sudah berubah. Coba saja anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah Anda membayangkan gimana seandainya tidak ada mesin fotokopi? Tentunya repot sekali. Benarkah demikian?</p>
<p>Saya jadi berpikir. Dulu sebelum ada mesin fotokopi seperti apa ya? Mungkinkah semuanya ditulis tangan. Bagaimana rasanya menyalin buku yang tebal. Sanggupkah Anda jika disuruh mencatat 100 halaman sehari? Wah, capek deh. Apa iya seperti itu?</p>
<p>Jaman memang sudah berubah. Coba saja anak sekarang disuruh menyalin buku. Tidak usah banyak-banyak. Cukup 5 halaman saja. Pasti mengeluh. Alasannya capek, nggak ada waktu, buang-buang waktu, dan sebagainya.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir mencatat itu manfaatnya banyak sekali lho. Peribahasa mengatakan, sambil menyelam minum air. Saya rasa peribahasa tersebut cocok sekali jika diterapkan pada kasus ini. Maksudnya adalah kita bisa belajar sambil mencatat. Selain dapat ilmunya kita juga punya catatan. Hemat waktu bukan?</p>
<p>Coba bandingkan dengan fotokopi? Apakah setelah difotokopi materi tersebut langsung dipelajari? Hebat kalau bisa seperti itu. Kebanyakan langsung disimpan. Dibaca nanti kalau mau ujian saja. Iya, kan? Ngaku saja deh&#8230; Saya juga seperti itu kok, hehehe&#8230;</p>
<p><span id="more-35"></span></p>
<p>Dulu waktu sekolah di SD dan SMP saya belum begitu mengenal yang namanya mesin fotokopi. Maklumlah sekolah pedesaan. Apa-apa harus saya catat di buku tulis. Tapi baru sekarang saya menyadari manfaatnya. Ternyata beda banget dengan fotokopi.</p>
<p>Saya bisa mengingat materi pelajaran yang saya catat tersebut lebih cepat dan lebih lama. Bahkan sekali baca saja langsung nyangkut di otak. Efeknya pas ujian saya tak perlu lagi capek-capek menghafal pelajaran.</p>
<p>Berbeda halnya waktu kuliah. Saya selalu mengandalkan fotokopi. Terbukti memang, saya harus membacanya berkali-kali baru paham isinya. Dan waktu mau ujian, ternyata sudah lupa lagi. Duh, kok jadi begini ya?</p>
<p>Tahu nggak, kenapa orang jaman dulu tulisan tangannya bagus-bagus? Mungkin ini ada hubungannya dengan kebiasaan mencatat. Semakin sering mencatat makin bagus tulisannya. Bukankah begitu?</p>
<p>Lalu apakah kita tidak butuh mesin fotokopi? Tentu saja butuh dong. Selama kita bisa memilah-milah mana yang sebaiknya kita catat, mana yang perlu difotokopi, saya rasa nggak masalah. Yang terpenting jangan sampai kita jadi tergantung dengan fotokopi.</p>
<p>Bagaimana menurut Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/mencatat-vs-fotokopi/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Katanya Kuliah di Teknik Informatika, Tapi Kok&#8230;</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/katanya-kuliah-di-teknik-informatika-tapi-kok</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/katanya-kuliah-di-teknik-informatika-tapi-kok#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 04:18:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Ini benar-benar nyata. Saya sendiri juga heran masak iya sih nggak bisa nginstal program. Padahal katanya dia kuliah di Teknik Informatika. Anda bisa membayangkan seperti apa kalau lulus nanti. Dunia ini memang penuh dengan hal-hal yang tidak terduga.
Tapi setelah saya pikir-pikir bisa saja kan? Mungkin saja dia adalah mahasiswa baru yang belum tahu apa-apa. Kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini benar-benar nyata. Saya sendiri juga heran masak iya sih nggak bisa nginstal program. Padahal katanya dia kuliah di Teknik Informatika. Anda bisa membayangkan seperti apa kalau lulus nanti. Dunia ini memang penuh dengan hal-hal yang tidak terduga.</p>
<p>Tapi setelah saya pikir-pikir bisa saja kan? Mungkin saja dia adalah mahasiswa baru yang belum tahu apa-apa. Kalau kasusnya seperti ini masih bisa diterima. Tapi kalau ternyata dia sudah hampir lulus, ini yang jadi pertanyaan.</p>
<p>Dulu waktu saya pertama masuk perguruan tinggi pernah juga mengalami kejadian seperti itu. Bahkan lebih parah. Saya kuliahnya di jurusan Teknik Elektro. Diajari dasar-dasar pemrograman oleh dosen saya. Nggak paham sama sekali.</p>
<p>Waktu itu saya belum punya komputer sama sekali. Bisa dibayangkan gimana pusingnya. Mau belajar programming tapi nggak punya komputer. Mau pakai komputer di laboratorium, nggak berani. Maklum mahasiswa baru.</p>
<p>Apa yang saya lakukan kemudian?</p>
<p><span id="more-34"></span></p>
<p>Saya belajar dengan cara mengamati. Hehehe&#8230; aneh kan? Tiap kali saya main ke kost teman saya, saya selalu mengamati gimana dia mengoperasikan komputer. Ceritanya teman saya ini punya komputer di kamar kostnya.</p>
<p>Tentu saja saya nggak bilang kalau saya tidak bisa komputer. Malu dong. Dari situ kemudian saya tahu sedikit-sedikit gimana caranya mengkopi file, mem-format disket, ngeprint, dan sebagainya.</p>
<p>Saat masuk semester kedua, saya mendapat lungsuran (bahasa Indonesia-nya apa ya? komputer dari kakak saya. Saya bawa ke tempat kost saya. Dulunya komputer itu ada di tempat kost kakak saya. Jadi saya nggak bisa belajar komputer di sana. Nggak enak kan kalau tempat kost cewek lama-lama?</p>
<p>Spesifikasi komputernya masih kuno sekali. Bukan Pentium 3 atau 4 tapi 486. Bisa dibayangkan gimana lambatnya. Windows-nya pun masih pakai Windows 3.1. Anda pernah pakai Windows 3.1? Tampilannya masih imut-imut.</p>
<p>Tapi bagi saya itu bukan masalah. Yang penting bisa utak-atik komputer. Dengan komputer itulah saya kemudian mengenal sistem operasi Linux. Ini bermula dari teman-teman saya juga. Waktu itu Linux sedang ngetren di kampus saya.</p>
<p>Saya lalu ikut-ikutan mencoba menginstall di komputer 486 tersebut. Berkali-kali gagal. Berkali-kali pula komputer tersebut saya bawa ke bengkel, karena terformat. Ceritanya waktu itu saya belum bisa menginstall Windows, karena belum punya CD-ROM. Hehehe&#8230; cari alasan.</p>
<p>Itu adalah cerita, waktu saya awal-awal kuliah dulu. Sekarang alhamdulillah saya sudah mahir komputer. Bahkan sudah jadi programmer.</p>
<p>Komputer 486 tersebut sekarang sudah nggak ada lagi. Sekarang komputer yang saya pakai Pentium III. Masih kuno juga hehehe&#8230;&#8230;.. Nggak masalah.</p>
<p>Yang penting bisa menghasilkan uang. Benar nggak?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/katanya-kuliah-di-teknik-informatika-tapi-kok/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Banggakah Memakai Software Bajakan?</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/banggakah-memakai-software-bajakan</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/banggakah-memakai-software-bajakan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 21:54:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/banggakah-memakai-software-bajakan.htm</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah mendengar bahwa beramal dengan harta hasil curian itu tetap berdosa. Benar atau tidak ya? Saya memang kurang begitu paham dengan hal tersebut. Namun hal itu ternyata cukup mengganggu pikiran saya.
Yang menjadi pemikiran saya, bagaimana hukumnya memakai software bajakan ya? Hehehe&#8230; nyambung nggak sih dengan pernyataan sebelumnya?  
Sebagai programmer saya mau nggak mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pernah mendengar bahwa beramal dengan harta hasil curian itu tetap berdosa. Benar atau tidak ya? Saya memang kurang begitu paham dengan hal tersebut. Namun hal itu ternyata cukup mengganggu pikiran saya.</p>
<p>Yang menjadi pemikiran saya, bagaimana hukumnya memakai software bajakan ya? Hehehe&#8230; nyambung nggak sih dengan pernyataan sebelumnya? <img src='http://www.wahyuwibowo.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebagai programmer saya mau nggak mau harus berurusan dengan hal tersebut. Seandainya saya mencari nafkah dengan memakai software bajakan, apakah penghasilan yang saya peroleh tersebut halal?</p>
<p><span id="more-27"></span></p>
<p>Mungkin banyak yang tidak peduli dengan persoalan semacam itu. Namun ternyata hal itu tidak berlaku pada saya. Selama ini saya begitu khawatir. Jangan-jangan nanti di akhirat saya masuk neraka gara-gara memakai software bajakan.</p>
<p>Memang sih bukan saya yang menyediakan software tersebut, tetapi kantor saya. Meskipun begitu saya tetap resah. Toh sama saja bajakan juga kan? Dengan menggunakannya itu berarti saya ikut membenarkan perbuatan tersebut. Ini yang menjadi kekhawatiran saya.</p>
<p>Akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya sebagai programmer di sebuah institusi pendidikan yang cukup ternama di Yogyakarta.</p>
<p>Wah&#8230;KONYOL.</p>
<p>Barangkali itu yang pertama terlintas di benak Anda. Memang benar. Tapi sebenarnya bukan itu saja kok yang menjadi pertimbangan saya. Masih ada pertimbangan lainnya, namun tidak akan saya kemukakan di sini.</p>
<p>Kembali ke masalah software bajakan tadi. Untuk menghindari RASA BERSALAH di pikiran saya, sejak resign tersebut saya lalu memutuskan untuk tidak lagi memakai software bajakan, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan MENCARI NAFKAH.</p>
<p>Kalau dulu saya selalu menggunakan Delphi untuk programming, berhubung harganya mahal (atau nggak punya uang ya), lalu saya beralih ke software open source.</p>
<p>Sekarang saya tidak lagi menerima proyek pembuatan software versi desktop (dengan Delphi), kecuali ada yang bersedia menyediakan Delphi non bajakan. Saya masih menjadi programmer (freelance), tetapi khusus berbasis web, pakai PHP dan Java.</p>
<p>Tidak disangka, ternyata hasilnya lumayan. Dan yang lebih penting pikiran saya tidak lagi terbebani dengan masalah bajakan tadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/banggakah-memakai-software-bajakan/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
