<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Wahyu Wibowo on The Net &#187; Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://www.wahyuwibowo.net/category/pendidikan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wahyuwibowo.net</link>
	<description>Belajarlah ilmu dan ajarkan pada manusia (Umar bin Khathab)</description>
	<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 03:30:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kritik Untuk Sinetron Guruku &#8230;</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/kritik-untuk-sinetron-guruku</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/kritik-untuk-sinetron-guruku#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 22:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saya perhatikan, sekarang ini kok sepertinya tayangan sinetron di televisi makin tak terkendali ya. Sekedar mencari popularitas tampaknya. Mutunya gimana? Kurang diperhatikan. Bahkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat meracuni generasi muda.
Salah satu contoh yang ingin saya bahas disini adalah sinetron yang berjudul &#8220;Guruku &#8230;&#8221; di salah satu stasiun televisi swasta. Sengaja judulnya saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau saya perhatikan, sekarang ini kok sepertinya tayangan sinetron di televisi makin tak terkendali ya. Sekedar mencari popularitas tampaknya. Mutunya gimana? Kurang diperhatikan. Bahkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat meracuni generasi muda.</p>
<p>Salah satu contoh yang ingin saya bahas disini adalah sinetron yang berjudul &#8220;Guruku &#8230;&#8221; di salah satu stasiun televisi swasta. Sengaja judulnya saya bikin nggak lengkap, silakan di terka sendiri.</p>
<p><span id="more-122"></span></p>
<p>Sinetron yang saya maksud kalau nggak salah inti ceritanya adalah tentang hubungan antara seorang guru (cewek) dengan siswa (cowok tentunya). Di situ digambarkan ada seorang siswa yang naksir gurunya yang cantik. Dan celakanya sang guru ternyata ada rasa juga ke muridnya itu. Dan selanjutnya seperti itulah&#8230;</p>
<p>Yang jadi pertanyaan, kok sinetron seperti ini ditayangkan sih?</p>
<p>Coba dipikir baik-baik. Apa hal ini tidak merusak citra guru (khususnya guru wanita dan masih muda). Apa jadinya kalau ini dicontoh oleh pelajar-pelajar di Indonesia ini? Waduh, bisa parah nantinya&#8230;</p>
<p>Meskipun tidak bisa dipukul rata, tetapi saya amati sekarang ini mental para pelajar di Indonesia (khususnya yang saya lihat) makin payah saja. Kerjanya membolos, hura-hura, merokok, dan sebagainya. Yah, wajar saja kalau kualitas lulusannya dipertanyakan.</p>
<p>Memang tidak semuanya seperti itu. Tapi realitas yang saya lihat menunjukkan gejala seperti itu.</p>
<p>Kembali ke masalah sinetron tadi. Menurut saya sinetron yang saya sebutkan tadi tidak layak untuk ditayangkan di televisi. Selain temanya tidak menarik, nilai-nilai yang dikandung juga sangat merusak mental pelajar.</p>
<p>Bagaimana menurut Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/kritik-untuk-sinetron-guruku/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anggaran Pendidikan 20 Persen</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/anggaran-pendidikan-20-persen</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/anggaran-pendidikan-20-persen#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 03:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu &#8212; tepatnya saya lupa &#8212; pemerintah setuju untuk menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dalam APBN tahun mendatang. Banyak kalangan yang menilai bahwa langkah itu bernuansa politis.
Tentu semua tahu kalau beberapa bulan lagi negeri tercinta ini akan ada hajatan besar. Apalagi kalau bukan Pemilu untuk memilih wakil rakyat serta presiden dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu &#8212; tepatnya saya lupa &#8212; pemerintah setuju untuk menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dalam APBN tahun mendatang. Banyak kalangan yang menilai bahwa langkah itu bernuansa politis.</p>
<p>Tentu semua tahu kalau beberapa bulan lagi negeri tercinta ini akan ada hajatan besar. Apalagi kalau bukan Pemilu untuk memilih wakil rakyat serta presiden dan wakil presiden. Pengamat politik mengatakan bahwa langkah pemerintah itu bertujuan untuk mendongkrak popularitas pemerintah di mata rakyat. Biar dikatakan memperjuangkan hak-hak rakyat. Yah, namanya juga pengamat politik.</p>
<p>Kalau saya pribadi &#8212; saya bukan pengamat politik loh &#8212; langkah tersebut patut didukung. Walau bermuatan politik, langkah itu memang harus dan wajib ditempuh. Kapan lagi kalau bukan saat ini. Nggak mungkin kan menunggu dua atau tiga tahun lagi. Nggak sempat. Pemerintahan sekarang kan nggak sampai setahun lagi, iya kan?</p>
<p><span id="more-93"></span></p>
<p>Menurut undang-undang dasar (setahu saya) anggaran pendidikan sebesar 20 persen itu memang batas minimal yang nggak boleh ditawar-tawar lagi. Jadi sebenarnya langkah pemerintah itu sudah telat. Hehehe&#8230; untung nggak ada protes dari dewan.</p>
<p>Kalau melihat kualitas pendidikan di negeri kita ini memang sudah amat parah. Sangat jauh bila dibandingkan dengan negara tetangga kita. Begitu juga dengan kesejahteraan guru. Tak heran guru-guru pintar di negeri kita ini banyak yang lari ke luar negeri. Karena memang dari sisi kesejahteraan lebih menjanjikan.</p>
<p>Lebih memprihatinkan lagi adalah mutu guru-guru di wilayah Indonesia bagian timur &#8212; ini menurut penuturan Prof. Johannes Surya di MetroTV beberapa waktu lalu &#8212; yang memang cukup parah.</p>
<p>Bagaimana mungkin mengharapkan kualitas pendidikan yang tinggi kalau tenaga pengajarnya saja kurang bisa diandalkan. Masak guru olahraga disuruh mengajar matematika, guru kesenian disuruh mengajar fisika. Gimana hasilnya nanti? Kacau kalau seperti ini kondisinya.</p>
<p>Semoga saja dengan peningkatan anggaran pendidikan menjadi 20 persen ini kualitas pendidikan di negara kita bisa terangkat. Meskipun hasilnya barangkali baru bisa kita rasakan 5 atau 10 tahun lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/anggaran-pendidikan-20-persen/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nggak Lulus, Ya Jangan Ngamuk Dong</title>
		<link>http://www.wahyuwibowo.net/nggak-lulus-ya-jangan-ngamuk-dong</link>
		<comments>http://www.wahyuwibowo.net/nggak-lulus-ya-jangan-ngamuk-dong#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 16:20:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Wibowo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyuwibowo.net/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak habis pikir, kok ada ya anak-anak di Jogja yang bisa berbuat kejam hanya gara-gara nggak lulus ujian. Dulu saya beranggapan bahwa semua pelajar di Jogja ini alim-alim dan sopan. Tapi ternyata anggapan saya itu tidak sepenuhnya benar.
Baru-baru ini ada sejumlah pelajar (atau mantan pelajar?) yang dengan tega menganiaya kepala sekolah karena tidak lulus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak habis pikir, kok ada ya anak-anak di Jogja yang bisa berbuat kejam hanya gara-gara nggak lulus ujian. Dulu saya beranggapan bahwa semua pelajar di Jogja ini alim-alim dan sopan. Tapi ternyata anggapan saya itu tidak sepenuhnya benar.</p>
<p>Baru-baru ini ada sejumlah pelajar (atau mantan pelajar?) yang dengan tega menganiaya kepala sekolah karena tidak lulus ujian. Kejadiannya di salah satu sekolah di Bantul. Para pelaku menghadang kepala sekolah tersebut pada saat pulang.</p>
<p>Apa yang mereka lakukan? Tidak tanggung-tanggung bapak kepala sekolah yang malang itu dihajar habis-habisan. Tak hanya itu, mobilnya pun menjadi sasaran amukan mereka. Sungguh kejam perilaku mereka itu.</p>
<p>Entah setan mana yang merasuki mereka pada saat itu. Yang jelas sekarang mereka harus menghadapi jeratan hukum. Inikah potret kehidupan pelajar sekarang ini? Pelajar yang mudah marah, brutal dan mau menang sendiri? Semoga saja tidak.</p>
<p>Di tengah situasi perekonomian yang sedang carut-marut seperti sekarang ini, menghadapi persoalan sekecil apa pun orang jadi mudah emosi. Mungkin itu yang menjadi penyebab dari semua itu. Ataukah ada yang lain?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyuwibowo.net/nggak-lulus-ya-jangan-ngamuk-dong/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
