Jadi anggota dewan itu memang enak. Dapat gaji yang selangit, fasilitas serba wah, tak ketinggalan tunjangan berlimpah. Tiap datang rapat pasti dapat jatah amplop. Pergi kemana saja gratis malah dapat uang segala macam lagi. Pokoknya masa depan terjamin kalau bisa jadi wakil rakyat.
Tak heran jika orang berebut untuk mendapatkan jabatan itu. Siapa sih yang tidak tergiur dengan segala kemewahan yang akan didapatkan? Berbagai cara pun ditempuh untuk bisa mencapai tujuan tersebut. Ada yang mengandalkan popularitas dan ada pula yang berbekal hubungan keluarga. Tak peduli cara yang ditempuh itu terpuji atau tidak, yang terpenting maksud tercapai.
Akankah nantinya negeri tercinta ini dipenuhi dengan anggota dewan yang seperti itu?
Belakangan ini berbagai koran maupun media televisi gencar memberitakan isu-isu yang berkembang seputar Pemilu. Apalagi kalau bukan masalah partai politik dan segala tetek bengeknya. Mulai dari pertikaian internal partai yang nggak rampung-rampung, hingga masalah pencalonan bakal caleg yang kabarnya lagi-lagi mengarah ke Korupsi Kolusi dan Nepotisme.
Pemilu kali ini dimeriahkan juga dengan sejumlah artis yang berlomba-lomba ikut mendaftar jadi caleg. Yah, semoga saja niatnya tulus, ingin memperbaiki kondisi bangsa yang sedang terpuruk ini. Tapi kalau niatnya hanya sekedar aji mumpung — untuk tujuan pribadi semata — patut disayangkan.
Hal lain yang juga patut disesalkan adalah munculnya caleg-caleg dari keluarga pengurus parpol. Sungguh kelewatan kalau seperti ini. Apa jadinya kalau caleg-caleg seperti ini yang menjadi wakil kita di dewan? Apakah mereka ini akan dengan tulus ikhlas memperjuangkan nasib rakyat kecil? Ataukah justru memperjuangkan keluarga dan koleganya?
Kita tidak tahu jawabannya. Tapi sepertinya cukup meragukan. Apalagi kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak rakyat belum terlihat sama sekali. Bagaimana pendapat Anda?
