Terlalu susah untuk membedakan yang mana pengemis dan yang mana pengamen. Bahkan kadang keduanya lebur menjadi satu. Alias pengemis merangkap pengamen. Ini bisa dijumpai di kota-kota besar. Saya ambil contoh di Jogja saja.
Hampir di setiap perempatan jalan besar di kota Jogja kita bisa menemui hal semacam itu. Ironisnya, pelakunya sebagian besar adalah anak-anak. Kalau nggak ya perempuan yang menggendong anak kecil. Kasihan anaknya, masih kecil sudah diajari mengemis.
Kadang-kadang mengamen hanyalah sebagai kedok belaka. Sesungguhnya ia itu pengemis. Nggak tahu juga pengemis sungguhan atau gadungan. Kalau sungguhan pengamen masak sih nggak niat begitu. Nyanyi juga asal bunyi saja.
Saya cukup heran, kenapa ya alat musiknya semuanya bisa hampir sama? Nama alat musiknya saya tidak tahu, tapi bunyinya crek..crek.. Seperti itulah. Cara memainkannya cukup mudah, cuma ditepuk-tepukkan di tangan.
Pernah juga terlintas dalam pikiran saya, apa mungkin mereka itu ada yang mengkoordinir? Semacam perkumpulan pengemis? Wah, kalau seperti itu kok kayak di filem ya, kayak Perkumpulan Pengemis Kaipang, yang punya tongkat Pemukul Anjing itu loh. Hehehe…
Masih mending pengamen di atas bis AKAP. Kalau pengamen yang seperti ini biasanya kreatif. Yah, walaupun suaranya nggak begitu bagus tapi cukup menghibur penumpang. Terbukti banyak juga yang ngasih uang receh.
Saya sendiri terkadang bingung bagaimana menghadapi orang-orang seperti itu. Kalau nggak dikasih uang sepertinya kok kasihan banget. Tapi kalau terus-terusan dikasih, pasti mereka akan keenakan. Ada yang punya pendapat lain?

November 4th, 2008 at 4:38 pm
gimana caranya belajar bahasa inggris dengan vOA yah?